Penulis : Dr. Irsyal Rusad. Sp.PD
Kita sering menyalahkan usia yang mulai tua untuk begitu saja menerima
kebiasaan pelupa yang kita alami. Karena tua, Anda dapat dengan
mudah memaklumi. Misalnya, seseorang yang baru saja Anda kenal beberapa
menit kemudian tidak ingat namanya lagi. Nama-nama cucu pun
kadang-kadang seperti sudah di ujung lidah, tetapi tidak ingat, apalagi
hari kelahirannya, dan Anda anggap itu tidak masalah.
Karena
merasa tua, Anda kemudian tidak mudah lagi belajar sesuatu. Apalagi
hal-hal yang baru. Bila Anda seorang Muslim, menghafalkan satu ayat yang
baru susahnya bukan main. Ayat-ayat yang selama ini lancar Anda baca
waktu shalat, misalnya, sekarang sudah mulai tergagap-gagap dan Anda
menerimanya begitu saja. Usia dijadikan alasan untuk itu. Anda kemudian
berpikir, wajarlah, kan usia saya sudah tua.
Karena alasan usia
tua, Anda kemudian jadi malas, membaca pun jarang, Anda tidak lagi
dapat mengikuti perkembangan di lingkungan Anda dan bahkan dunia luar.
Lalu Anda merasa otak Anda madal, tumpul, dan kemudian Anda menjadi
bodoh, dan itu Anda pikir normal-normal saja.
Banyak saya
lihat, orang-orang yang merasa dirinya tua mulai punya sikap demikian.
Seolah-olah menyerah begitu saja dengan penurunan fungsi intelektual
otaknya. Padahal, di sisi lain, banyak juga para usia lanjut yang masih
tetap cerdas, cemerlang otaknya. Banyak contoh orang-orang terkenal
berusia lanjut yang meraih doktor saat usia mereka lebih dari 70 tahun.
Ada penulis novel terkenal dunia yang baru menulis setelah umur mereka
berkepala 7. Hamka juga kabarnya menyelesaikan tafsir monumentalnya di
penjara dan usia beliau lebih dari 65 tahun. Nelson Mandela masih mampu
memimpin Afrika Selatan saat usianya di atas 80 tahun. Hmmm... tidak
usah jauh-jauh melihat. Kompasianer Isk-harun, 78 tahun; Thamrin Dahlan,
65 tahun, yang rajin blusukan bersama-sama dengan Dian Kelana, si
fotografer andal; dan kabarnya Bu Rokhmah yang sering bercerita tentang
anaknya, Amri, adalah beberapa Kompasianer yang saya kenal cukup rajin
menulis pada saat usia tidak muda lagi. Nah, sementara di usia yang
sama, banyak dari mereka yang tidak bisa lagi berhitung, menulis, tidak
mampu lagi berbicara di depan umum, dan bahkan tidak tahu lagi jalan
pulang ke rumah.
Kemudian, tentu ada yang bertanya, "Mengapa
sebagian mereka yang menua menjadi bodoh, otaknya tumpul, intelektualnya
menurun, tetapi pada sebagian lain, ibaratkan tungku, lilin dia tetap
menyala, tetap cemerlang?"
Jawabannya sebenarnya sangat
sederhana, "Yang otaknya masih cemerlang, tetap menyala, itu karena
mereka selalu menjaganya agar tetap sehat."
Lantas, "Bagaimana
caranya agar otak kita, yang ada di antara dua telinga kita itu,
walaupun usia terus beranjak tua, tapi masih dan selalu sehat, istilah
kerennya healthy brain, dapat dipertahankan, atau tetap cemerlang?"
"Bagaimana kiatnya sehingga Einstein masih tetap cerdas sampai akhir
hayatnya, Hamka masih dapat mengarang buku, menulis tafsir, dan hafal Al
Quran di usia senjanya? Atau dengan kata lain, otaknya tetap sehat?"
Tidak seperti kita yang semakin bodoh seiring bertambah lanjutnya usia
kita?"
Menurut beberapa penelitian, otak kita itu seperti otot.
Prinsip use it or you lose it, sebagaimana berlaku untuk otot kita,
berlaku juga bagi otak kita. Seperti otot, seiring dengan bertambahnya
usia, dada kita yang bidang sedikit demi sedikit akan berkurang, lengan
yang berotot jadi mengecil, dan paha yang kokoh kuat menciut rapuh.
Apa sebabnya demikian?
Karena kita tidak lagi menggunakannya dengan baik. Otot-otot itu kita
biarkan manja, menganggur. Kita lebih banyak duduk, santai di atas sofa,
atau berbaring di tempat tidur. Karena itu, otot-otot kita semakin
mengecil dengan bertambahnya usia kita.
Tetapi, penelitian
menunjukkan, bila otot-otot itu tetap digunakan, Anda rajin melangkah,
berlari, berenang, latihan peregangan, dan pembebanan, otot-otot Anda
akan tetap tumbuh dan berkembang. Dan, itu semua tidak tergantung dengan
umur Anda. Maka tidak perlu heran, ada pelari triatlon yang sudah
menginjak usia di atas 70 tahun, dan dia tidak kalah dengan pelari yang
jauh lebih muda. Pesenam Johanna Quaas masih melakukan senam
akrobatiknya pada usia 86 tahun.
Otak kita juga begitu, bahkan
lebih hebat lagi dibanding otot. Semakin sering Anda gunakan, akan
semakin lama pula dia dengan baik menjadi teman Anda. Bila otot ada
batas maksimalnya, dapat mengalami cedera bila digunakan berlebihan,
otak tidak demikian. Hubungan sinapsis antara sel-sel otak tidak akan
pernah terputus karena Anda belajar, menulis, membaca, dan sebagainya.
Tidak ada orang kemudian menjadi bodoh karena rajin belajar. Bahkan,
rangsangan-rangsangan yang selalu Anda berikan kepada otak Anda membuat
otak itu tetap muda, cemerlang, dan sehat.
Jadi, agar Anda
tidak semakin bodoh seiring dengan bertambahnya usia, maka tetaplah
menggunakannya. Berikanlah rangsangan-rangsangan setiap hari agar
hubungan-hubungan sinapsis sel saraf Anda tidak jadi mandek, tidak
terputus, bahkan sebaliknya tumbuh hubungan-hubungan, sel-sel baru.
Untuk mencapai itu, banyak hal yang dapat Anda lakukan, seperti belajar,
membaca, menulis, menghafal, melakoni hobi-hobi baru, mencoba pekerjaan
yang menantang, rekreasi, memperbanyak hubungan sosial, termasuk
memperbanyak teman, olahraga teratur, dan memilih makanan yang sehat.
Nah, itu semua pilihan Anda.
==========================================